THE RAID
Penantian dan ekspektasi yang terus bertambah tinggi selama 5 bulan terakhir setelah gagal menyaksikan THE RAID di INAFFF bulan November lalu ternyata belum cukup menyiapkan gua menghadapi pukulan, tendangan, tinju, lutut, darah dan keringat yang menghiasi film gila ini. Gua bener-bener menahan nafas menyaksikan Iko Uwais, Joe Taslim dan Yayan Ruhian dengan sangat luwes tapi kasar dan anggun tapi kuat menghancurkan semua orang yang ada di depannya. Gila…
Film yang menggunakan Pencak Silat sebagai bela diri pilihannya ini sejatinya bukan film bela diri seperti Drunken Master atau banyak film-film kung fu lainnya. THE RAID lebih dekat secara spiritual dengan film-film action macam Enter The Dragon, Die Hard atau Hard Boiled dan secara buas berhasil mencapai level para pendahulunya tersebut.
THE RAID dimulai ketika Rama (Iko Uwais) yang tergabung dalam pasukan khusus kepolisian yang dipimpin oleh Jaka (Joe Taslim) mendapat tugas untuk masuk kedalam sebuah apartemen yang dihuni oleh gerombolan penjahat dan pembunuh dan dikuasai oleh seorang gembong narkoba bernama Tama (Ray Sahetapi) yang mempunyai dua anak buah kepercayaan Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Andi (Dony Alamsyah). Tugas mereka sederhana, masuk diam-diam dan menyeret Tama keluar dari gedung tersebut. Sayangnya penyerbuan ini tidak berlangsung lancar, dan ketika Tama mengumumkan lewat speaker bahwa mereka kedatangan tamu tak diundang dan siapa saja yang bisa menghabisi tamu-tamu ini bisa tinggal di apartemen tersebut gratis selamanya, mimpi buruk dimulai untuk Jaka, Rama dan anggota pasukan khusus lainnya. Sementara untuk kita para penonton, acara utama yang penuh darah dan adrenalin baru akan dimulai.
Dengan premis cerita yang sederhana tersebut, Gareth Evans (Sutradara, Penulis dan Editor) tetap berhasil memberikan pertaruhan yang cukup untuk para penontonnya. Hal ini sangat diperlukan sebab jika tidak, film yang 80% isinya adalah baku tembak dan baku hantam akan cepat menjadi monoton dan membosankan. Untungnya ada Iko Uwais di tengah-tengah kekacauan ini. Melalui Rama-nya Iko Uwais penonton mempunyai satu pahlawan yang bisa kita bela, tempat kita dapat menaruh empati dan dukungan. Dengan Iko, THE RAID mempunyai jangkarnya yang membuat film ini tidak hanya berupa 100 menit pertunjukan baku hantam yang hampa.
Berbagai aksi di film ini yang berhasil diberikan Gareth Evans bersama para petarungnya tidak akan bisa gua deskripsikan secara akurat karena pertarungan ini bukan pertarungan biasa yang bisa di generalisasi. Semua tinju, tendangan dan sabetan golok mempunyai ceritanya sendiri. Setiap pertarungan mempunyai cerita sebab dan akibatnya sendiri. THE RAID adalah film yang menggunakan pertarungan untuk memajukan ceritanya, menggunakan pertarungan untuk memberi kita pengetahuan tentang karakter seseorang. Setiap pertarungan terasa berbeda karena setiap pertarungan mempunyai tujuannya masing-masing. Terlebih lagi koreografi pertarungannya yang memang sengaja menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir. Inilah kekuatan terbesar film ini, aksi bela diri yang mempunyai pertaruhannya sendiri yang tidak hanya ada untuk membuat film ini terlihat keren. Dengan begitu, kita sebagai penonton juga tenggelam kedalam setiap pertarungan karena kita 100% berada dibelakang film ini bersorak dari pinggir lantai pertarungan.
Mendukung para petarung hebat ini, pergerakan kamera dari Matt Flannery sang DOP yang bergoyang-goyang ala film-film Jason Bourne tetap tahu kapan harus bergoyang dan bergerak mengikuti pertarungan dan kapan harus diam cukup lama untuk memberikan para penonton informasi tentang dimana dan bagaimana pertarungan tersebut berlangsung. Sementara itu Gareth Evans juga tahu betul dimana harus mengedit pertarungannya agar tidak terlihat monoton dan tetap memberikan pandangan mata terbaik untuk meihat pertarungan tersebut bagi para penonton. Berkat hal ini tiap pertarungan terasa jelas, segar dan terasa lebih dahsyat dari pertarungan-pertarungan sebelumnya.
Masih banyak elemen dari THE RAID yang membuat film ini bukan sekedar film action biasa. Tata suara yang tiap dentuman pukulan membuat kita mengernyitkan dahi, musik pendukung yang tidak berlebihan justru memberikan efek ketegangan dan pergantian adegan yang tepat berhasil mengatur tempo film sampai ke klimaksnya dengan sempurna.
Dengan berbagai kombinasi tersebut, THE RAID berhasil memberikan sebuah aksi bela diri yang koheren, realistis dan sangat luar biasa yang juga berhasil membuat penontonnya merasa terlibat. Namun yang paling penting adalah kita ikut merasakan setiap pukulan, tendangan, bantingan dan sabetan golok yang datang dan ada sekelompok petarung yang mempertaruhkan badannya untuk mendapatkan sebuah aksi yang asli. THE RAID bukan sekedar tontonan biasa, THE RAID adalah sebuah pengalaman.
- Muhammad Omar Azis
pertama kali di publikasikan dalam Jurnal Akar Vol 1. No 1. Maret 2010.
oleh Muhammad Omar Azis
Bulan Desember 2009, di penghujung sebuah dekade, satu film membuka mata dunia dan memberikan para penikmatnya sekilas pandangan terhadap masa depan teknologi film yang menunggu kita di dekade baru ini. Avatar yang disutradarai oleh James Cameron menandai kembalinya teknologi 3D yang sebelumnya dipandang sebelah mata oleh para kritikus film karena tidak memberikan sebuah kontribusi berarti bagi jalannya cerita dan tidak bisa menghasilkan sebuah tontonan yang indah bagi penontonnya. Mitos tersebut benar-benar diruntuhkan oleh Avatar dalam keindahan teknologi 3D-nya memberikan pengalaman menonton yang jauh berbeda dan memberikan jalan cerita yang bisa dibilang sederhana menjadi sebuah kekuatan tersendiri.
Namun kekuatan Avatar tidak hanya terletak pada teknologi dan penggunaan 3D semata. Film yang menghabiskan 10 tahun untuk pembuatannya ini juga memberikan sebuah terobosan baru dalam dunia pembuatan film, teknik motion capture yang telah disempurnakan adalah salah satu dari keajaiban yang membuat Avatar tidak hanya menerobos pakem dunia teknologi namun juga memecahkan semua rekor keuntungan yang pernah ada. Sampai saat ini Avatar telah meraih untung lebih dari 1.5 Milyar USD dan menjadi film dengan keuntungan terbesar sepanjang masa. Sungguh sebuah tonggak awal dari wajah baru perfilman dunia yang akan kita lihat di masa yang akan datang.
Berbicara mengenai teknologi 3D, Indonesia sendiri pernah terkena demam 3D ini pada akhir tahun 90an dimana banyak sinetron memberikan opsi menonton dalam bentuk 3 dimensi dengan cara mengenakan kaca mata yang dirancang khusus untuk menonton sinetron-sinetron tersebut. Demam ini namun tidak berlangsung lama karena selain teknologi 3D yang digunakan masih belum bisa memberikan cara menonton baru yang berubah secara signifikan dan nyaris tidak berbeda dengan tanpa 3D, banyaknya kacamata palsu yang beredar dan sama sekali tidak membantu menjadikan gambar di layar televisi meloncat kehadapan penontonnya juga ikut menjadi alasan mengapa demam ini tidak berlangsung lama.
Meloncat 10 tahun kemudian di tahun 2009 dan kemudian 2010, pengusaha bioskop Grup 21 dan bioskop Blitzmegaplex berlomba-lomba merenovasi bioskopnya untuk dapat memutar film 3D yang selain memberikan nyawa baru terhadap film, juga memberikan pemasukan baru dua kali lipat lebih banyak dibandingkan film tanpa teknologi ini. Seperti yang terlihat, perkembangan teknologi perfilman juga memaksa para pemilik bioskop untuk terus mempercanggih semua aspek bioskopnya agar dapat mengejar perkembangan teknologi perfilman yang signifikan walaupun dengan memberikan pelanggannya harga yang lebih mahal. Sementara para penonton berlomba-lomba merasakan kekuatan dan keindahan film-film 3D meloncat didepannya, pemilik bioskop berlomba-lomba mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan membuka lebih banyak layar yang mampu menyokong teknologi 3D.
Perubahan besar yang tengah terjadi didalam dunia penayangan film di bioskop berbanding lurus dengan perubahan perilaku penonton film di Indonesia yang sebelumnya menurut Salim Said belum mempunyai kebudayaan film namun masih menganggap kegiatan menonton film sebagai kegiatan membuang waktu semata. Dalam kata-katanya:
“Belum berkembangnya film culture di Indonesia, menyebabkan masyarakat menonton film hanya sebagai tontonan, bukan sebagai kebutuhan sebagaimana orang Amerika atau Eropa menonton film tertentu. Ini salah satu sebab masih rendahnya mutu film Indonesia. Karena masyarakat Indonesia belum membutuhkan film bermutu, tapi menonton sekedar membuang waktu”[1]
Perubahan ini berarti penonton yang dulunya hanya menganggap datang ke bioskop dan menonton film adalah bentuk membuang waktu, berubah menjadi sebuah kebutuhan hiburan dan seni yang menjadi satu tanda bahwa kebudayaan film di negeri ini sudah mulai tumbuh. Jika mengikuti kata-kata Salim Said bahwa salah satu sebab rendahnya mutu film Indonesia adalah karena masyarakat Indonesia belum mempunyai sebuah kebudayaan menonton film, maka bisa diambil kesimpulan bahwa dengan kebangkitan film Indonesia pada akhir tahun 90an dan banyaknya film-film bermutu yang dibuat sampai saat ini seperti Laskar Pelangi[2], Merantau[3], Berbagi Suami[4], dan banyak lagi, masyarakat Indonesia sudah mempunyai satu kebudayaan menonton film yang cukup untuk mendorong dunia perfilmannya kearah yang lebih baik.
Melihat perkembangan bioskop yang pesat dari yang sebelumnya satu bioskop hanya mempunyai satu layar, kemudian berubah menjadi Sinepleks yang mempunyai banyak layar, perlu dicatat bahwa perubahan perilaku menonton film ini sangat dipengaruhi oleh perubahan dalam diri bioskop yang ada. Jika sebelumnya dengan satu layar saja bioskop-bioskop ini gagal membawa penonton ke dalam kebudayaan film maka bioskop multi layar yang biasa disebut Sinepleks adalah satu entitas yang mendukung perubahan perilaku penonton ini. Dengan lebih banyak ekspos terhadap film-film bermutu yang diputar, para penonton film disuguhi pengalaman berbeda dengan menonton film di televisi. Sudwikatmono, salah seorang pendiri Grup 21 menyadari hal ini yang dalam kata-katanya:
“Menurut catatan saya, bioskop konvesional yang berkapasitas besar tidak pernah mencapai 40 persen dari kapasitas terjual. Setelah dipecah menjadi beberapa bioskop kecil, rta-rata mencapai 40-55 persen dari kapasitas terjual setiap malam. Bukti lain menunjukkan, pelanggan boskop yang sudah lama meninggalkan kebiasaan menonton mulai kembali mengunjungi bioskop lagi.”[5]
Dapat disimpulkan bahwa saat ini, kebudayaan menonton masyarakat Indonesia sudah sangat jauh berubah dibandingkan saat Salim Said mengatakan bahwa kebudayaan film Indonesia belum ada sama sekali. Terlebih dengan banyaknya festival film yang diadakan di Indonesia yang tidak hanya menayangkan film-film mainstream yang banyak diputar namun juga memutar film-film genre yang mungkin hanya beberapa orang yang bisa menikmatinya, memperlihatkan bahwa kebudayaan film sudah menjadi kebutuhan primer yang tidak lagi hanya sebagai bentuk rekreasi namun sebagai bentuk apresiasi terhadap bagaimana cara kita memandang dunia dalam bentuk yang berbeda-beda.
Melihat semua perkembangan yang terjadi dalam perihal teknologi bioskop dan kebudayaan film para penonton ini, sangat sulit rasanya membayangkan bahwa diantara jepitan tembok-tembok bioskop masih ada beberapa pengusaha yang mendedikasikan dirinya untuk mendirikan pancang-pancang bambu dengan kain membentang ditengahnya untuk menghasilkan sebuah layar dadakan yang ditancapkan kedalam tanah disebuah lapangan kosong. Jauh dari teknologi bioskop 3D, jauh dari dunia Avatar, jauh dari bentuk kebudayaan film yang diimpikan Salim Said. Dalam ragam kehidupan masyarakat urban yang serba pararel, Layar Tancap masih mendapat tempat yang hangat didalamnya.
Layar Tancap yang sesuai namanya hanya berupa pancung-pancung bambu yang ditancapkan di tanah dengan layar yang membentang ditengahnya masih dapat kita temui dalam malam hari yang cerah tak berawan[6] bahkan ditengah kota urban seperti Jakarta misalnya. Dengan menarik banyak warga lokal untuk menikmati malam dengan menonton film di luar rumah dan berinteraksi dengan tetangga, kerabat dekat dan tentu saja dengan para pedagang asongan, Layar Tancap adalah bentuk lain dari konsep tradisional silaturahmi namun dengan kemasan yang modern berkat medium film yang diusungnya.
Umumnya pertunjukan layar tancap ini berlangsung dari jam 8 malam dan berlangsung hingga jam 3 malam jika pengunjung ramai dan tidak ada halangan dari cuaca dengan primetime hingga jam 12 malam karena setelah itu yang diputar adalah film-film semi erotis. Bagaimana kegiatan Layar Tancap ini berlangsung dijelaskan dengan baik oleh Dimas Jayasrana & Ardi Yunanto yang dalam artikelnya yang mengatakan:
Layar tancep, dengan sendirinya tidak hanya menjadi acara yang mandiri. Film-film yang tampil tanpa jeda, tidak selalu membuat pengunjung tak melakukan aktifitas lain. Beberapa anak kecil tampak bermain, pemuda-pemudi yang saling menggoda, beberapa pasangan berpacaran, ramai kaki lima, atau bahkan orang-orang yang berjudi. Judi Koplok dan judi Rolet adalah yang paling populer menyemarakkan setiap pertunjukan layar tancep.
Layar tancep selalu menjadi fenomena, ketika elemen-elemen di dalamnya mampu melepaskan diri dan menciptakan aktifitas baru. Mendukung atau tidaknya aktifitas tersebut, tidak begitu menjadi masalah selama mampu menjaring interaksi pengunjung. Sebagian orang yang datang memang tidak selalu ingin menonton film, tapi juga menonton penonton yang lain, atau sekedar meluangkan waktu menikmati acara yang berhasil menciptakan ragam aktifitas ini. Maka sangat wajar jika mereka dapat begitu apresiatif memprotes kualitas film. Terkadang dengan melempar layar dengan berbagai macam benda, bahkan sampai memotong tiang penyangga layar dan merubuhkannya.
Prime Time layar tancep berlangsung sampai jam 12 malam. Setelah itu, yang biasa diputar adalah film-film semi-erotis, atau film-film sorlie (film sampah); berupa potongan-potongan berbagai film yang dirangkai menjadi satu. Terutama mereka yang bermain judi, masih ramai memenuhi lapangan. Seperti biasa pula, perjudian ini tak lepas dari kecurangan. Strategi adu domba dilakukan untuk memancing keributan dan bandar yang menang akan melarikan diri. Sebagian rumor mengatakan, terkadang hal itu adalah hasil kerjasama dengan pemilik hajatan sendiri dengan sistem bagi hasil.
Secara keseluruhan, layar tancep adalah tentang bagaimana pengunjung terpuaskan. Pembicaraan tentang layar tancep yang berhasil bisa sampai satu minggu setelahnya. Modal pemilik hajatan berupa ‘Proyektor Gede’ 35 mm, serta banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di sana, adalah salah satu cara mengukur keberhasilan acara. Hingga Layar tancep, yang dulu melebih popularitas Lenong dan Tanjidor dan kini mulai digantikan oleh Orkes Dangdut dan Campur Sari, adalah pengalaman tersendiri bagi mereka yang pernah menontonnya. Sebagai perkawinan yang serasi antara modernitas dan budaya lokal, antara layar terproyeksi seluloid dengan ragam aktifitas yang terjadi di dalamnya.[7]
Namun Layar Tancap tidak lahir begitu saja ditengah-tengah kehidupan masyarakat urban, awalnya Layar Tancap lahir dari permasalahan yang sama seperti banyak yang terjadi dalam sejarah pembangunan negeri ini. Tidak adanya bioskop yang tumbuh di daerah selain kota-kota besar menjadi sebab utama mengapa Layar Tancap sempat menjadi salah satu alternatif hiburan pada tahun 1970an sampai awal 1980an bagi banyak orang di pelosok daerah Indonesia yang bahkan hingga sampai saat ini belum terjamah bioskop besar yang memutar film-film bermutu. Sesuai dengan latar belakang ekonomis dalam pendirian bioskop, bagi masyarakat pedesaan hiburan film jauh dari jangkauan mereka atau baru sekedar cerita burung dari warga desa yang mempunyai pengalaman hidup di kota.[8]
Bagi beberapa warga desa khususnya di Jawa, Layar Tancap bukanlah satu konsep yang asing lagi. Hal ini disebabkan sekitar 30 tahun sebelumnya di masa pendudukan Jepang, Layar tancap adalah salah satu usaha propaganda Jepang dengan film untuk meningkatkan derajat bangsa Asia dan memberikan kesan baik tentang keberadaan Jepang di Indonesia.
Awalnya Jepang hanya menggunakan bioskop yang tersedia saat itu untuk mempertunjukkan film-filmnya yang selain propaganda seperti film perang dimana angkatan perang Jepang terlihat tidak terkalahkan, juga film-film yang membahas mengenai kehidupan bermasyarakat yang ideal. Bioskop yang digunakan hanya untuk keperluan propaganda di seluruh Jawa ada 35 gedung bioskop dengan 23 diantaranya terdapat di Jawa Barat 3 di Jawa Tengah dan 9 di Jawa Timur. Meskipun Jepang sangat ingin membawa sebanyak mungkin orang miskin untuk nonton film namun terhambat oleh tersedianya gedung bioskop yang terbatas. Pada tahun 1943, penduduk Pulau Jawa ada 50 Juta orang. Gedung bioskop yang ada dihitung rata-rata adalah 40.000 orang untuk satu bioskop, jumlah yang menurut pemerintah jepang saat itu terlalu sedikit.[9]
Untuk mengatasi hal itulah Jepang mengerahkan pemutaran di alam terbuka dalam bentuk bioskop keliling yang menjadi cikal bakal dari Layar Tancap yang sekarang dikenal luas di Indonesia. Akan tetapi, pemutaran film keliling ini lebih banyak dikhususkan bagi penonton tertentu, seperti romusha, pegawai pabrik, atau anak sekolah. Antara tanggal 16 sampai 30 Desember 1943, mobil film keliling sudah beroperasi di 13 tempat di Banten. Film keliling ini memutar untuk 126.000 romusha.[10] Peredaran bioskop keliling ini diketahui menyebar melalui operasionalisasi dari enam kota. Yakni, dari Jakarta ke Bogor dan Banten. Dari Bandung ke Priangan, Cirebon, dan Banyumas. Dari Yogyakarta menyebar hingga Solo, Madiun, dan Kedu. Sedangkan dari Surabaya ke Bojonegoro dan Madiun. Lalu dari Malang ke Kediri dan Besuki.[11]
Dalam menggarap propaganda bioskop keliling ini Jepang tidak tanggung-tanggung dalam eksekusinya. Mereka mendatangkan enam orang ahli bioskop keliling ini dari negerinya. Operasi dilakukan dengan pimpinan seorang Jepang yang dilakukan dengan menggunakan truk-truk yang hilir mudik masuk keluar kampong, menyajikan film-film gratis tersebut.[12] Film-film yang disuguhi Jepang sebagai alat propagandanya dalam konteks luas berhasil memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan bermasyarakat kita dewasa ini. Dampak dari pertunjukan keliling ini sangat besar bagi rakyat jelata yang dapat dicontohkan dari film mengenai praktik gotong royong dalam mengangkut air untuk memadamkan kebakaran, secara beranting, segera dijadikan cara praktis untuk mengerjakan sesuatu bersama-sama. Sementara film tentang Tonari Gumi, melahirkan organisasi warga yang sampai sekarang menjadi organisasi Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).[13] Bagi masyarakat Indonesia umumnya saat itu, film perang Jepang memantapkan keyakinan mereka bahwa kekuatan angkatan perang Jepang sangat hebat dan tidak terkalahkan, yang sebagai akibatnya menyebabkan banyak orang Indonesia yang tidak percaya ketika Jepang kalah perang pada Agustus 1945.[14]
Setelah kepergian Jepang dari Indonesia, praktek bioskop keliling atau Layar tancap ini mulai kehilangan kekuatannya sebab tidak ada lagi pengusaha yang mau bersusah payah keluar masuk kampung untuk mengadakan pertunjukan. Hal ini disebabkan dalam periode 1950an sampai 1960an bioskop menjadi sebuah bentuk usaha yang untung dan menjanjikan sehingga fokus untuk membawa film ke daerah pedesaan bukan sebuah prioritas pada saat itu. Sebelum akhirnya pada akhir 1960an dan awal 1970an mulai tercetus keinginan untuk membawa bioskop dan film-filmnya kedalam daerah yang sebelumnya tidak terjamah oleh bioskop tersebut. Bertitik tolak dari kenyataan bahwa pertumbuhan bioskop terkonsentrasi di kota besar membuat sebagian produser dan pengusaha bioskop untuk menayangkan film secara keliling ke berbagai desa yang belum memiliki kaset, video kaset[15], atau bahkan listrik. Biasanya para pengusaha bioskop keliling ini menggunakan peralatan yang cukup sederhana, hanya sebuah proyektor film 16mm, diesel listrik dan sejumlah kru melanglang buana dari desa ke desa memberikan hiburan canggih dan murah. Dengan membayar HTM Rp.200-Rp. 300, masyarakat pedesaan telah dapat menikmati hiburan segar yang sebelumnya hanya sekedar kabar burung mapun mimpi belaka. Keuntungan dari pengusaha ini adalah mereka tidak perlu repot mendirikan gedung karena pemutarannya bisa dilakukan dimana saja mulai dari lapangan bola, gedung SD ataupun rumah warga yang sedang mengadakan acara pernikahan ataupun khitanan.[16]
Cikal bakal bioskop keliling ini dimulai di beberapa daerah seperti NTT, yang lama kelamaan menjadi sebuah tradisi dan menyebar ke daerah lain sehingga tumbuh menjadi satu ajang bisnis yang potensial. Hal ini terjadi karena pada tahun 1970an bisnis film terutama di daerah sedang mengalami masalah yang diakibatkan oleh lemahnya dan mahalnya jaringan distribusi film nasional saat itu. Di Bali, banyak bioskop yang terpaksa memutar film-film lama karena suplai film dari Surabaya tersendat. Para penonton setia di Bali juga menjadi berkurang karena mereka tidak mempunyai pilihan film-film terbaru. Dari permasalahan ini para pengusaha bioskop tampaknya mendapatkan cara lain mendapatkan untung walaupun hanya mempunyai koleksi film-film lama dengan menyebarkannya ke daerah-daerah pelosok yang tidak peduli atau tidak tahu film-film yang diputar adalah film-film lama yang tidak laku di kota besar.[17]
Pada tahun 1978, bisnis bioskop keliling atau Layar Tancap ini semakin mantap dengan didirikannya organisasi Persatuan Bioskop Keliling Indonesia (Perbiki) atau Persatuan Film Keliling Indonesia (Perfiki)[18]. Hal ini terjadi karena pemerintah maupun organisasi perfilman lainnya menilai bahwa perlu dibentuk sebuah organisasi untuk mengurus aturan main dari bioskop keliling ini. Aturan main tersebut meliputi ukuran film, jenis film yang boleh diputar dan tentu saja pajak tontonan yang nantinya didapat dan didistribusikan.[19]
Pada prakteknya, bisnis bioskop keliling ini menimbulkan juga sebuah pro dan kontra yang diakibatkan oleh bentroknya gaya hidup tradisional dan modern yang terdapat dalam satu pertunjukan Layar Tancap. Di Sumatera Utara misalnya, masyarakat Kabupaten Pematang Siantar dan beberapa daerah perkebunan lainnya sempat membawa masalah ini ke DPRD Tk. 1 Sumut. Bahkan di Jakarta sendiri juga muncul permasalahan yang memaksa Acub Zainal, Gubernur Jakarta saat itu, untuk datang ke DPR dan mengikuti acara dengar pendapat. Permasalahan yang dibicarakan disini adalah masalah bioskop keliling yang dinilai membahayakan moral masyarakat terutama generasi muda, sebuah problema yang terdengar tidak asing lagi.
Bioskop keliling dianggap membahayakan moral generasi muda dikarenakan pemutaran film tidak lagi memperhatikan batasan usia, sehingga film-film yang dimaksudnkan untuk demografi 17 tahun keatas dapat dengan mudah dinikmati oleh anak-anak dibawah usia tersebut. Selain itu, karena banyaknya film yang diputar setiap malamnya – yang bisa mencapai 3 judul film setiap malam – pertunjukan baru berakhir menjelang waktu subuh, yang dianggap menimbulkan efek penurunan gairah kerja bagi para petani ataupun buruh perkebunan, bahkan para pelajar. Selain efek terhadap para penonton, para pengusaha bioskop keliling ini juga menggunakan kesempatan yang diperolehnya untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan memutar film-film impor ataupun film nasional yang belum boleh diputar untuk bioskop keliling karena masa edarnya belum selesai untuk bioskop atau belum berusia 2 tahun.[20]
Namun para pengusaha bioskop keliling ini mendapat dukungan dari Acub Zainal yang berbicara di forum DPR yang mengatakan bahwa bioskop keliling cukup penting, karena tidak saja memberikan hiburan segar, penerangan dan pendidikan tetapi juga memberikan dorongan dalam usaha mengembangkan film nasional. Ia juga mengatakan dalam berbagai wawancara bahwa karena usaha bioskop keliling inilah film nasional dapat menjadi semakin merakyat, karena juga bisa dinikmati oleh para petani ataupun pekerja perkebunan yang tidak bisa datang ke bioskop di kota besar. Dengan merakyatnya film nasional ini maka apresiasi tumbuh sedemikian rupa, menambah lapangan pekerjaan, baik yang digunakan sebagai kru atau para pedangan yang berjualan di saat berlangsungnya pertunjukan.[21]
Untuk terus menjaga agar bisnis bioskop keliling menjadi bisnis yang sehat, menguntungkan dan berdampak baik bagi perfilman nasional Perbiki senantiasa berusaha mengontrol para anggotanya yang mencapai 4000 pengusaha agar selalu mengikuti aturan main dan tidak menyalahgunakan kesempatan yang diberikan. Namun karena banyaknya pelanggaran dan kondisi negatif dari bioskop keliling ini, memaksa Departemen Penerangan mengeluarkan sebuah Surat Edaran No. 10/Se/DPF-III/1986 tentang Pembinaan Pertunjukan Film Keliling yang bagi Perbiki merupakan sebuah ancaman karena selain mengganggu otoritas Perbiki juga merugikan bagi para pengusaha bioskop keliling ini. Peraturan yang dianggap mengganggu saat itu adalah ditetapkannya format film yang boleh diputar hanya berukuran 16mm dan hanya boleh disaksikan oleh penonton dengan umur lebih dari 13 tahun.[22]
Hal ini menjadi permasalahan sebab anak-anak berusia kurang dari 12 tahun adalah salah satu demografi potensial untuk bioskop keliling yang jika mereka datang kemungkinan besar ditemani oleh kedua orang tuanya sehingga menambah penonton yang datang. Permasalahan mengenai format film 16mm menjadi lebih besar karena film dengan format 16mm sulit didapatkan perizinan. Selain itu pengusaha bioskop keliling dihadapkan kenyataan bahwa Kuasa Pemilik Film (KPF) di daerah juga melakukan aksi pemutaran film keliling dengan format film 35mm. Seharusnya, langkah itu harus diawasi ketat dan mereka menjadi anggota Perbiki pula, dengan memenuhi berbagai peraturan lain yang didapat setelah menjadi anggota.[23]
Selain banyaknya masalah yang menghadang, Perbiki tercoreng juga namanya karena banyak dari pengusaha ini memutar film asing dan nasional yang berbau seks dan sadisme karena mengikuti kecenderungan yang sama dengan bioskop konvensional dan mengikuti kemauan pasar yang akhirnya terlanjur menyukai jenis film seperti itu. Kecenderungan ini menjadi semakin menjadi-jadi sehingga sering meresahkan masyarakat dan harapan perbiki menjadi ujung tombak apresiasi film nasional sering jadi melenceng dari yang diharapkan. Namun Perbiki tetap mempunyai sisi positif yang sampai saat ini dibawa oleh pertunjukan Layar Tancap dimanapun, baik di daerah maupun ditengah-tengah kota urban seperti Jakarta yang terlihat dari semangat idealiasme pengusahanya yang masih tumbuh subur. Dengan kata lain, usaha ini tidak melulu bermotifkan keuntungan tetapi sering pula menjadi hobi memberikan hiburan murah kepada masyarakat. Perbiki juga terlihat menempatkan diri sebagai pengusaha kecil yang dekat dengan masyarakat kecil yang haus hiburan, informasi dan berdampak sebagai pendidikan informal bagi masyarakat.[24]
Layar tancap memang lebih banyak dikenal sebagai satu pertunjukan film yang terjadi di alam terbuka seperti lapangan sepakbola dengan demografi masyarakat kecil di kota besar atau masyarakat pedesaan yang sulit mendapatkan hiburan karena alasan geografis. Namun Layar Tancap ini juga mempunyai berbagai bentuk berbeda dengan tetap menggunakan prinsip yang sama yaitu sebagai pertunjukan film keliling yang tidak terikat pada tempat pertunjukan didalam atau luar ruangan namun dengan demografi atau tujuan yang sama sekali berbeda. Beberapa bentuk lain dari Layar Tancap ini adalah bioskop Drive-In, dan pertunjukan special screening.
Sebelum boomingnya bisnis bioskop keliling atau Layar Tancap pada dekade 1970an. Muncul sebuah inovasi baru yang mengambil contoh dari bioskop keliling namun memberikan satu sentuhan urban didalamnya. Pada bulan Juli 1970 dibukalah sebuah bioskop Drive-In, sebuah bioskop dimana penonton bisa menikmati pertunjukan film tanpa perlu turun dari dalam mobil di daerah Ancol. Bioskop Drive-In ini merupakan satu-satunya bioskop bermobil di Indonesia dan dapat menampung sampai dengan 850 mobil yang membuatnya sebagai bioskop Drive-In terbesar di Asia Tenggara dan Australia, mengalahkan Sydney yang mempunyai Drive-In “hanya” berkapasitas 700 mobil saja. Harga karcis masuk bioskop ini pada saat itu adalah Rp 500 untuk orang dewasa dan Rp.300 untuk anak-anak dihitung perorang bukan permobil. Keunggulan launnya adalah penonton bisa memesan makanan dengan tetap duduk didalam mobil sehingga tidak perlu repot-repot keluar dan membelinya sendiri.[25] Walaupun bioskop ini pada jamannya mendapat sambutan yang meriah namun kesan yang ditinggalkan tidak terlalu baik karena bioskop Drive-In ini dikenal sebagai tempat perbuatan asusila, sehingga kemudian ditutup.
Bentuk lain dari bioskop keliling yang banyak dikenal sebagai special screening ini adalah bentuk promosi sebuah film yang belum diputar di bioskop atau tidak dapat diputar di bioskop karena konten didalam filmnya tidak memenuhi aturan yang berlaku. Sebagai contoh, film Betina besutan Lola Amaria dan dibintangi oleh Kinaryosih tersebut tidak diputar dalam bioskop konvensional namun hanya diputar dari kampus ke kampus seperti FIB UI, ITB[26] dan ITS[27]. Selain itu film Laskar Pelangi yang disutradarai oleh Riri Riza sempat menjelajahi kota-kota besar Australia sebagai bagian dari promosi film tersebut kepada para pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Australia.[28] Contoh yang terlihat dari Betina dan Laskar Pelangi menunjukkan bahwa pertunjukan Layar Tancap tidak hanya berarti sebuah pertunjukan film bagi rakyat kecil namun juga bisa menjadi sebuah ajang promosi dan ajang pertunjukan film-film tertentu bagi demografi tertentu. Walaupun tentunya Layar Tancap sinonim dengan pertunjukan film alam terbuka yang melibatkan masyarakat kecil dengan bambu dan layar besar sebagai mediumnya, namun perlu diingat bahwa sesuai dengan prinsipnya yang berpindah-pindah dan tidak terikat pada tempat itulah bahwa konsep Layar Tancap mempunyai bentuk lain yang lebih luas dan berbeda dengan Layar Tancap yang umumnya dikenal.
Lalu apakah yang terjadi dengan Layar Tancap tradisional dewasa ini? Pada jaman dimana Avatar membuat semua orang berpaling kepada teknologi 3D, dimanakah posisi Layar Tancap dalam kehidupan masyarakat urban pada dekade baru ini? Banyak kegiatan Layar Tancap dewasa ini terbatas pada pertunjukan yang diadakan di daerah seperti awal mulanya bisnis ini berkembang. Beberapa komunitas film di daerah seringkali melakukan kegiatan Layar Tancap untuk para warga sekitar. Seperti komunitas Arisan Film Forum (AFF) yang seringkali menghibur para warga di Kroya – Cilacap dan Cilongok – Banyumas. Bahkan pada bulan September tahun 2007 komunitas ini menghibur para PSK di Baturaden dengan pertunjukan Layar Tancap yang menariknya banyak menampilkan film-film non industri yang biasanya hanya diputar di kampus-kampus.[29] Lalu ada juga komunitas film Cinema Lovers Community (CLC) dari Purbalingga yang aktif memberikan hiburan Layar Tancap pada acara 17 Agustusan ataupun acara sendiri. CLC ini sukses mengadakan pertunjukan Layar Tancap di beberapa desa di Purbalingga seperti Desa Gandasuli, Desa Karangtalun Kecamatan Bobotsari, Desa Penaruban.[30]
Selain komunitas-komunitas film independen, Perfiki yang pada tahun 1993 disahkan sebagai organisasi resmi oleh pemerintah, juga masih secara aktif memberikan pertunjukan Layar Tancap pada berbagai lapisan rakyat. Selain bersama ABRI membantu menghibur masyarakat di Timor Timur, Perfiki sempat ke Papua untuk menghibur masyarakat disana tanpa dipungut biaya.[31] Perfiki memiliki 900 pengusaha di 12 provinsi yang kegiatan usahanya pemutaran film keliling untuk tujuan promosi/produk industri, film keliling untuk tujuan hajatan gratis dan film keliling untuk komersil dengan mengenakan harga tanda masuk.[32]
Bagi sebagian masyarakat urban yang dikatakan sudah mempunyai kebudayaan film sendiri, Layar Tancap sudah berubah menjadi sebuah fenomena yang nostalgik dan menyenangkan yang bisa disamakan dengan kamera digital dan kamera Polaroid. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertunjukan Layar Tancap dengan skala besar yang mengundang semua lapisan masyarakat untuk datang dengan tujuan mengingat kembali kebudayaan rakyat yang sudah hampir punah.[33]
Namun masih banyaknya kegiatan pertunjukan Layar Tancap di daerah-daerah yang jauh dari kota besar memperlihatkan bahwa walaupun masyarakat urban pada umumnya sudah mempunyai apa yang disebut kebudayaan film, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadikan menonton film sebagai sebuah hiburan semata tanpa memperdulikan film apa yang ia tonton. Disebut hampir punah mungkin saja benar bagi masyarakat urban yang sudah mempunyai kebudayaan filmnya sendiri, tapi bagi penikmat dan berbagai komunitas film di daerah, Layar Tancap masih dapat berdiri sebagai ujung tombak dari hiburan rakyat yang modern dimana kebahagiaan menyaksikan sebuah keajaiban gambar bergerak untuk pertama kalinya bersama teman-teman sepermainan sambil menikmati es cendol diantara orang dewasa yang bermain kartu dan bercumbu sudah lebih dari cukup.
[1] Lihat Salim Said, Bioskop Dalam Prespektif dalam Haris Jauhari (ed). Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia. (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1992). Hlm 143
[2] Film ini berhasil mendapatkan nominasi sebagai Film Terbaik dan Editor Terbaik dalam Asian Film Award, sementara Riri Riza berhasil membawa pulang SIGNIS Award dari Hong Kong International Film Festival.
[3] Film ini mencoba untuk menjadi film aksi pertama yang mengusung Silat Tradisional dari Sumatera Barat dan mendapatkan kesuksesan ditengah-tengah gempuran film-film mistik dan horror yang banyak menghantui perfilman Indonesia.
[4] Film ini mampu menjadi salah satu dari 61 nominasi Best Foreign Language Picture Academy Awards ke-79 dan mendapatkan Best Film dari Hawaii International Film Festival serta Best Direction untuk Nia Dinata dari Brussels International Independent Film Festival.
[5] Lihat Sudwikatmono, SInepleks dan Industri Film Indonesia dalam Haris Jauhari (ed). Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia. (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1992). Hlm 160
[6] karena jika pertunjukan diganggu gerimis atau hujan pengunjung langsung bubar maka pertunjukan layar tancap juga banyak dikenal dengan sebutan Misbar atau gerimis bubar.
[7] http://www.filmalternatif.org/?m=article.detail&id=18 Dimas Jayasrana & Ardi Yunanto. Layar Tancep; Proyeksi Sebuah Pesta. diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 19.16
[8] Haris Jauhari (ed). Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia. (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1992). Hlm 123
[9] Misbach Yusa Biran. Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa.(Jakarta: Komunitas Bambu dan Dewan Kesenian Jakarta, 2009). Hlm 350
[10] Misbach Yusa Biran. Ibid. dikutip dari Eiko Kurosawa. Film as Propaganda Media in Java under the Japanese, 1942-1945. didalam Grant K. Goodman (ed). Japanese Culture Policies in South East Asia during World War II. Hlm 37
[11] Haris Jauhari (ed). Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia. (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1992). Hlm 42
[12] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 42
[13] Misbach Yusa Biran. Op Cit. Hlm 347
[14] Misbach Yusa Biran.. Ibid. Hlm 348
[15] Pada tahun 1970an ini mulai muncul teknologi kaset video, laser disc maupun video VHS yang mulai digemari dan menggantikan bioskop sebagai fasilitas untuk mendapatkan hiburan tontonan film. Hal ini pula yang menyebabkan merosotnya pengunjung bioskop sehingga pada kurun waktu 1970an sampai nantinya pada akhir 1980an muncul Grup 21 yang mengembalikan penonton ke bioskop. Dapat dikatakan, hilangnya penonton dari gedung bioskop membuat beberapa produser mulai mencari penonton dengan mengadakan acara bioskop keliling walaupun dengan keuntungan yang tidak seberapa. Lihat Haris Jauhari (ed). Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia. (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1992). Hlm 106–108.
[16] Haris Jauhari. Op Cit. Hlm 123
[17] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 122
[18] Perbedaan ini terjadi karena perbedaan referensi yang penulis lihat. Dalam Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia Haris Jauhari menggunakan Perbiki, sementara dalam faktanya hanya ada satu organisasi yang mengatur mengenai bisnis film keliling yaitu Perfiki yang berdiri pada tahun 1972 dan bermarkas di Pusat Perfilman Usmar Ismail. Tidak ditemukan adanya referensi lain mengenai Perbiki selain dari buku tersebut.
[19] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 123
[20] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 124
[21] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 124
[22] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 125
[23] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 125
[24] Haris Jauhari. Ibid. Hlm 126
[25] Doenia Film. Edisi Tanggal 14 Juli 1970.
[26] http://www.itb.ac.id/news/1302 diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 18.27
[27] http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3181 diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 18.27
[28] http://laskarpelangithemovie.blogspot.com/2009/03/laskar-pelangi-akan-ditayangkan-di.html diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 18.29
[29] http://www.filmalternatif.org/?m=news.detail&id=36 diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 18.48
[30] http://www.filmalternatif.org/?m=news.detail&id=28 diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 18.52
[31] http://www.papuapos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2773&Itemid=0 diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 19.24
[32]http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=483&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&pared_id=461529 diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 19.25
[33] http://www.budpar.go.id/page.php?ic=512&id=1476 diakses pada tanggal 10 Maret 2010, Pada Pukul 19.01
Tahun 2010 kemarin buat saya merupakan tahun dimana saya paling banyak menanti-nantikan sebuah film untuk di tonton di layar lebar. Film-film seperti Toy Story 3, Iron Man 2, Kick Ass, Tron: Legacy, Rapunzel, The Social Network, The A-Team, Harry Potter 7, adalah beberapa contoh film yang saya sudah tunggu-tunggu pemutarannya sejak setahun sebelumnya. Walaupun pada akhirnya beberapa diantaranya tidak sebaik yang saya antisipasikan, namun secara umum tahun 2010 adalah tahun yang baik untuk film-film mainstream Hollywood, sebanyak apapun remake dan sequel dan dikeluarkannya.
Dari berbagai film yang mencuat dan mendapatkan ulasan bagus dari berbagai kritik dan penonton, buat saya sepuluh film berikut inilah yang membuat tahun 2010 merupakan tahun yang seru untuk film. Perlu dicatat, film yang saya muat hanyalah film yang mendapatkan pemutaran layar lebarnya di Indonesia dan bukan film yang hanya terdapat di DVD bajakan, jadi film seperti Easy A yang sangat pantas masuk dalam daftar saya, tidak dapat disertakan disini.
10. How To Train Your Dragon
Buat saya inilah film animasi Dreamworks terbaik yang pernah mereka hasilkan. Akhirnya dengan film ini, Dreamworks setidaknya mempunyai kesempatan untuk bersaing dengan Pixar. Bercerita mengenai seorang anak yang berteman dengan seekor naga legendaris yang ditakuti, film ini mempunyai nilai yang jauh lebih dalam dari sekedar cerita persahabatan biasa. Hubungan antara Hiccup sang anak dengan bapaknya yang selalu meremehkan dirinya membuat film ini mempunyai inti emosional yang dalam dan indah. Selain itu adegan Hiccup terbang dengan Toothless sang naga, pertarungan terakhir dan endingnya membuat How To Train Your Dragon pantas bersanding dengan film-film Pixar diatas altar film animasi terbaik.

9. Buried
Layar hitam, suara napas terengah-engah, layar hitam, korek dinyalakan, Ryan Reynolds terkubur dalam peti mati dan panik. Kira-kira begitu adagan pembuka dari Buried yang tanpa berkata apa-apa sukses membuat penontonnya masuk kedalam dunia sempit yang claustrophobic. Selama 90 menit penonton diajak mengikuti cerita Paul Conroy yang dikubur hidup-hidup dan berusaha menyelamatkan diri hanya dari dalam peti mati itu sendiri. Dengan hanya mengandalkan naskah dan teknik kamera yang mumpuni, Rodrigo Cortes berhasil membuat sebuah film yang minimalis namun dengan efek yang maksimal, yang masih mengikuti kita lama setelah kita meninggalkan studio.
8. Let Me In
Sebagai sebuah film remake yang film aslinya mendapatkan banyak ulasan yang sangat bagus dari berbagai kritik, Matt Reeves mempunyai beban yang sangat berat dalam mengerjakan film ini. Bisakah Let Me In menjadi sebuah film yang lepas dari bayang-bayang Let The Right One In? masuknya Let Me In dalam daftar ini membuktikan segalanya. Film ini berhasil menggambarkan dengan tepat inti dari ceritanya dengan tetap melukisnya melalui mata seorang Matt Reeves. Atmosfir horor yang terasa dan sedikit ditambahkan jika dibandingkan dengan film aslinya, menjadi backdrop yang baik untuk memperlihatkan kepolosan kisah cinta antara Abby dan Owen yang dimainkan dengan sangat baik oleh Chloe Moretz dan Kodi Smit-McPhee.

7. Up In The Air
Setelah Juno dan Thank Your For Smoking, Jason Reitman berhasil membuat dirinya terkenal sebagai seorang sutradara dengan film yang memberatkan dirinya dalam dialog antar karakter. Up In The Air yang bercerita mengenai seorang Ryan Bingham yang mempunyai pekerjaan memecat orang dan berkeliling Amerika dengan pesawat terbang bisa saya katakan adalah karya terbaik Jason Reitman sampai saat ini. Ia berhasil memotret gaya hidup masyarakat modern yang penuh kebosanan dan rutinitas menjadi sebuah petualangan kecil yang penuh dengan berbagai pertemuan dan kejadian unik namun tetap menjaga agar tidak memperlihatkan bahwa kehidupan semacam itu adalah kehidupan yang seru. Dengan George Clooney, Vera Varmiga dan Anna Kendrick sebagai jangkarnya, Up In The Air merupakan sebuah studi kemanusiaan yang realistis dan indah sekaligus menyedihkan.

6. Monsters
Film tentang alien yang dimulai ketika film alien lainnya berakhir. Dalam Monsters, Gareth Edwards sang sutradara berusaha memperlihatkan pada kita apa yang terjadi seandainya alien telah sampai dan berkembang biak di bumi seperti halnya makhluk hidup lainnya. Film yang mencampur adukkan genre petualangan, cinta dan sci-fi ini berhasil membangun sebuah dunia yang realistis dengan berbagai penggunaan CGI yang efektif untuk menggambarkan efek yang terjadi setelah para alien tersebut menjadi penghuni Bumi. Mengubah tampilan berita di TV, papan-papan petunjuk jalan yang disesuaikan dengan keadaan, dan berbagai detail lainnya dipergunakan secara maksimal oleh Edwards untuk membangun dunianya. Pembangunan karakter yang dilakukan secara halus berhasil membuat kita terhanyut dan peduli kepada perjalanan tiga orang karakter utama yang ada. Ya, sang alien menurut saya adalah karakter terpenting yang ada di film ini. Setelah semua berhasil kita serap, film ini membuat saya bertanya, sebenarnya siapakah monster sebenarnya yang disebut oleh judul film ini.
![]()
5. Inception
Keluar dari studio bioskop dengan rahang terbuka dan sibuk membicarakan adegan terakhir dari film ini adalah pemandangan biasa yang menggambarkan pengalaman yang didapat karena menonton film ini. mindblown, mindfucked, tercengang, dsb. Becerita tentang seorang pencuri ide Dom Cobb yang mendapatkan tugas untuk menanam ide di pikiran seseorang, Christopher Nolan berhasil menciptakan sebuah paduan sempurna antara set-piece ala Hollywood – perkelahian di koridor hotel dengan zero gravity - dengan plot yang pintar, original dan berbeda. Ditambah dengan ensemble aktor dan aktris yang selain rupawan juga mumpuni dalam hal aktng, Inception benar-benar menunjukkan apa artinya keindahan luar dalam.

4. Toy Story 3
Jika ada satu studio yang bisa membuat sebuah sequel kedua dari sebuah film tanpa menurunkan kualitasnya, Pixar adalah salah satunya. Setelah pada tahun 1995 Toy Story mengejutkan dunia film animasi dan tahun 1999 Toy Story 2 berhasil memperlihatkan bahwa sequel tidaklah harus selalu menurun kualitasnya, Pixar kembali di tahun 2010 dengan episode ketiga petualangan Woody dkk. Toy Story 3 memfokuskan ceritanya pada Woody dkk yang merasa ditinggalkan oleh Andy yang sudah dewasa dan akan pergi untuk meneruskan kuliah. Pada film ini Pixar benar-benar membuat sebuah film animasi untuk semua umur, sekali lagi saya tekankan, semua umur! Dimana yang menangis setelah adegan terakhir bukan hanya anak-anak kecil namun juga orang dewasa berusaha mati-matian menahan air matanya, atau satu adegan di tempat pembuangan sampah dimana orang-orang dewasa ikut menutup matanya sementara anak-anak kecil yang disebelahnya memeluk lengan mereka. Dengan kata lain, sebuah film untuk semua umur yang sempurna. Dengan mengkedepankan tema tumbuh, perubahan dan perpisahan, Toy Story 3 berhasil merangkul semua penontonnya dan meyentuh hati mereka semua.

3. Kick Ass
Review ini sebenarnya bisa diselesaikan hanya dengan 2 kata: Hit-Girl. Namun sebelum kita kembali ke Hit Girl, Kick Ass bercerita tentang Dave Lizewski seorang penggemar komik yang berfantasi menjadi seorang superhero bernama Kick Ass, Matthew Vaugh berusaha membuat film ini sebisa mungkin tetap berada di level realitas dan tidak terlalu jauh masuk kedalam dunia superhero dalam komik. Sang superhero Kick Ass tidak bisa berbuat apa-apa, bisa terluka, bisa mati dan bahkan mempunyai satu back story yang cukup realistis soal bagaimana ia bisa selamat mendapatkan pukulan terus menerus. Tapi bagaimana bisa sebuah film mempunyai karakter utama yang lemah? Disinilah Hit-Girl muncul untuk beraksi, ya film ini benar-benar milik sang superheroine cilik bermulut kasar. Dari mulai kemunculannya yang bermandikan darah, Hit-Girl sudah tertanam di pikiran para penonton bahwa ialah bintang dari film ini. Perempuan, anak kecil, imut-imut, menusuk orang tanpa ragu-ragu, berbicara dengan bahasa kasar, namun tetap menawan? Semua yang diperlukan untuk membuat salah satu karakter terbaik yang muncul di layar lebar tahun 2010.
Kick Ass boleh saja menempatkan dirinya dalam level realitas, namun realitas tidak harus selalu gelap dan penuh dengan intrik ala The Dark Knight, Kick Ass tidak pernah melupakan asal-usulnya sebagai komik dengan berbagai lelucon, karakter dan ending yang over-the-top dan hal itu terlihat dari sangat menyenangkannya film ini ditonton berkali-kali. Matthew Vaugh sang sutradara, Jane Goldman sang penulis naskah, Chloe Moretz, Aaron Johnson dan Nicholas Cage para aktor berhasil membuat film ini dipenuhi dengan cerita yang kuat, karakter yang kuat dan menjadi salah satu film superhero terbaik yang pernah dan akan ada.

2. The Social Network
Film tentang facebook? Ini pasti akan menjadi sangat jelek, David Fincher udah gak bisa lagi buat film bagus. Begitu kira-kira reaksi banyak orang di forum-forum film Internet. Oh betapa salahnya mereka saat ini. Film yang dihasilkan oleh David Fincher dan Aaron Sorkin sebagai penulis naskahnya benar-benar membuat saya yang menontonnya terkejut dan terperangah dengan kecepatan dan ketajaman dialognya, betapa sederhananya film ini namun tetap terasa kompleks dan dalam. Ketajaman naskah Aaron Sorkin terlihat paling jelas di awal film, dimana Jesse Eisenberg sebagai Mark Zuckerberg beradu argumen dengan pacarnya. Hanya dari 5 menit adegan pembuka dengan dialog yang sangat cepat, kita sudah bisa tau seperti apa karakter Mark Zuckerberg itu, ambisinya, bahkan impiannya. Sebuah adegan pembuka yang sangat hebat dan berhasil menjadi fondasi untuk membuat kita percaya akan semua perbuatan Mark Zuckerberg di film ini. Sementara itu kehebatan penyutradaraan David Fincher dan DOP-nya Jeff Cronenweth bisa terlihat paling jelas pada adegan lomba mendayung yang penuh, menegangkan dan mendebarkan. Musik pendukung yang di aransemen oleh Trent Reznor dan Atticus Ross juga ikut membangun mood The Social Network yang gelap, sedih dan sepi. Selain semua kekuatan tersebut, The Social Network yang mengangkat tema tumbuhnya bisnis social networking dan semua intrik yang terdapat di dalamnya menjadikan film ini sebagai potret generasi baru yang tumbuh di era kejayaan internet, dimana kekuatan ekonomi berpindah dari komoditi menjadi coding-coding rumit yang memungkinkan kita bertemu teman dari seluruh dunia. Inilah film terbaik yang saya tonton di tahun 2010.

1. Scott Pilgrim Vs The World
The Social Network bisa saja menjadi film terbaik yang saya tonton di tahun 2010, tapi Scott Pilgrim Vs. The World yang merupakan film terbaik kedua di tahun 2010 tetaplah menjadi film favorit saya. Film ini berhasil memperagakan bagaimana seharusnya film yang bersumber dari komik itu dibuat, sekaligus memperlihatkan bahwa mungkin saja membuat film yang berbau video game dan tidak jelek. Edgar Wright sang sutradara mengeluarkan semua trik yang ia punya untuk membuat film ini. Editing yang cepat, tempo film yang tidak berhenti untuk menceritakan kisahnya, pergerakan kamera zoom-cut, split screen, long-shoot, sight gag, bahkan pop-up words seperti dalam film Batman zaman dahulu dipakai untuk membantu penceritaan film ini. Dari segi visual, Scott Pilgrim Vs The World menawarkan semuanya. Namun visualisasi yang dibuat Edgar Wright tidak hanya berfungsi untuk mempermanis tampilannya, tapi juga untuk bercerita tanpa perlu berbicara. Tahu kata-kata a picture worth a thousand words? Film ini adalah contoh nyatanya.
Tanpa cerita yang kuat, tentu film ini hanya akan menjadi sebuah pemuas mata semata, tapi untungnya, komik yang ditulis oleh Bryan Lee O’Malley dan dijadikan naskah film oleh Edgar Wright dan Michale Bacall ini tidak hanya kuat di penampilan. Film ini menceritakan tentang petualangan Scott Pilgrim sang tokoh utama kita yang berumur 22 tahun, bermain band dan tidak mempunyai pekerjaan dalam memperjuangkan kisah cintanya dengan gadis impiannya Ramona Flowers. Scott haruslah berhadapan dengan 7 mantan Ramona untuk bisa dengan tenang menjalin hubungan dengannya. Kekuatan yang terletak pada kisah tentang seseorang yang berumur 20 tahunan, tidak mengetahui apa-apa, bingung menentukan pilihan, mempunyai pacar yang masih dekat dengan mantannya, mempunyai masa lalu yang terus menghantui, adalah tanpa disadari semua hal tersebut terasa dekat dengan kehidupan kita sendiri sehingga mudah untuk bersimpati dengan sang tokoh utama.
Masih banyak lagi yang bisa dipuji dari film ini, seperti kumpulan aktor-aktor muda yang berhasil menghidupkan perannya dengan baik sekecil apapun peran mereka, ditambah dengan dialog lucu yang unik dan tajam berhasil membuat berbagai karakter tersebut lebih hidup. Musik yang mengiringi film ini juga patut diacungi jempol karena berhasil membawa kita kedalam suasana anak muda yang bebas, liar namun tidak yakin akan dirinya sendiri, lalu adegan-adegan pertarungan yang sangat kreatif, seru dan berbeda juga menjadi kekuatan film ini. Pujian tersendiri patut diberikan kepada Michael Cera yang berhasil membuat Scott tampil meyakinkan di layar lebar. Walaupun banyak dikritik sebagai aktor yang hanya bisa memainkan satu peran, Cera selalu dapat memainkan perannya dengan baik. Bahkan saya berani berargumen bahwa akting-nya di film ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan aktingnya di Juno, Nick and Norah atau Superbad.
Akhir kata, dalam film yang mencampur adukkan genre Romantic Comedy, Action, dan Teen Drama ini Edgar Wright dan kru-nya berhasil membuat saya mendapatkan sebuah pengalaman sinematik yang paling memukau di tahun 2010.

and…. my favorite episode of Community. the great Modern Warfare. seriously, watch it.
from communitytvlj
oh annie……
from Sexwithturtles
hmmmm annie and britta.
from wankkkkk
but… arguably his finest hour to date not him doing something in front of the camera.
from socksta
and soar like a bat.
from CronoGuardia
where Abed really shines.
from Hermoon
